Thursday, May 16, 2013

Apakah Engkau Mengasihi AKU?

Di tepi danau ini kami berdiri pada tgl 25 Pebruari yang lalu. Kenangan akan peristiwa demi peristiwa Kitab Suci di danau Tiberias ini bermunculan: panggilan para murid pertama dari tempat kerja mereka, Yesus mengajar dari atas perahu, penangkapan ikan besar-besaran, angin ribut, Yesus berjalan di atas air ke arah perahu para rasul, dan piknik bersama Yesus yang bangkit di pinggir pantai ini. 

Ketika tangan saya memegang batu karang, yang katanya tempat pengukuhan primat Petrus (Yoh 21:15-19), terdengar pertanyaan Yesus, “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” 

Pertanyaan itu bukan ditujukan kepada Petrus tetapi kepada saya sendiri. Saya tidak bisa menjawab. Apalagi mengangkat muka. Saya tertunduk beberapa saat. Tuhan tahu bahwa saya mengasihi Dia. Tapi apakah lebih daripada yang lain-lain? Itu menjadi PR pertobatan saya sepanjang hidup. 

Pantas, ketika mendengar pertanyaan beruntun, Petrus si batu karang yang tegar itu pun luluh. Air mata berderai dan ia menangis sesenggukan. Kasih yang total, tak terbagikan, siapa bisa? Tapi itulah yang dilakukan-Nya terhadap kita, bukan? (bdk Yoh 13:5) Ia bahkan memberikan diri-Nya sendiri bagi kita. Tidak ada kasih yang lebih besar lagi daripada itu. tidak heran, kalau Ia menuntut yang sama dari kita. 

Tanpa kasih, tugas yang ringan menjadi berat. Apa yang mudah, terasa sulit sekali dilaksanakan. Sebaliknya tak ada yang berat dan sulit dilaksanakan kalau itu untuk kekasih. Semua kita tahu dari pengalaman masing-masing, bukan? 

Tugas yang diserahkan kepada Petrus, bukan ringan. Tanggung jawabnya berat. Kalau tanpa kasih yang besar kepada-Nya tak mungkin bisa dilaksanakan. Tidak hanya Petrus. Kita pun menerima tugas dan tanggung jawab yang serupa. Tugas apa? 

Pekerjaan harian kita entah di rumah, di kantor, di kelas, ya di mana saja. Setiap tugas mengandung tanggung jawab. Tentu sesuai dengan kemampuan kita. Apakah kita melaksanakannya demi kasih kepada Dia? Kalau tidak, maka tidak heran kalau kita acuh tak acuh dan melakukannya asal-asalan, bukan?

Wednesday, May 15, 2013

Ut Omnes Unum Sint!

Hari minggu itu saya pulang merayakan Ekaristi di stasi pedalaman. Saya singgah sebentar di rumah ponakan. Mau kunjungi kakak yang sakit. Ada yang berbisik. Pastor baru saja beri minyak suci. Saya kaget. Cepat-cepat saya ke kamarnya. Ia sedang bergulat dengan maut. Ia melihat saya. Mulutnya komat-kamit. Suaranya sudah tidak jelas. Ia melihat anak-anak dan isteri. Mulutnya tetap komat-kamit. Saya menganggukkan kepala. Saya memahami maksudnya. Jaga anak isterinya. Itu sudah diingatkannya sewaktu masih sehat. Orangtua siapa yang mau anak-anaknya bermusuhan? Semangat pesaudaraan harus digalang. Kerukunan terus dipupuk. Nasihat supaya kakak menjaga adik, kalau perlu mengalah, terus-menerus diberikan. Maksudnya tidak lain daripada tetap memelihara persatuan. 

Suasana serupa sangat terasa dalam Yoh 17:20-26. Yesus berdoa untuk persatuan tidak hanya bagi para murid. Ia berdoa juga bagi semua yang percaya kepada-Nya. Ia berdoa supaya kita bersatu. Tidak hanya antara kita, tetapi bersatu juga dengan Dia dan Bapa. Jika demikian maka seharusnya tak perlu diragukan persatuan umat kristiani, bukan? Dari pihak Allah, yes. Dari pihak manusia? Tunggu dulu. Orang bilang, sebanyak rambut di kepala, tentu yang bukan botak, sebanyak itu pula pendapat. Tidak heran, persatuan menjadi sulit. Tanpa persatuan kita menjadi skandal dan batu sandungan bagi orang lain. Dunia percaya kepada Kristus justru karena persatuan umat kristiani. Bukankah persatuan menjadi kebanggaan kita juga? Mau contoh? Kita sering membanggakan persatuan organisatoris mulai dari KUB/KBG atau stasi di pelosok sampai ke pusat kekuasaan di Roma. Perayaan liturgi sama. Hukum kanonik berlaku di mana-mana. Hanya sebatas inikah persatuan yang didoakan Kristus? Tentu tidak. Apa gunanya kita bersatu dalam perayaan liturgi, tetapi di luar perayaan kita tidak peduli terhadap nasib sesama? Jujurkah kita mengaku bersalah pada awal perayaan liturgi dan katanya mau bertobat, tapi di luar gereja kita tetap dendam? Perayaan iman yang mempersatukan kita dengan Tuhan, seharusnya disusul dengan kesaksian iman yang menghidupkan persatuan antar kita, bukan? 16052013

Tuesday, May 14, 2013

Membuka Ruang Bagi TUHAN

Ia rajin. Di kelas ia selalu duduk di depan. Penuh perhatian waktu kuliah. Hampir tidak pernah ia bertanya. Dia mengerti atau tidak bahan kuliah, entahlah. Saya kenal baik kemampuannya. Dia diluluskan karena pertimbangan lain. Bukan karena kepandaiannya. Itu terus terang saya katakan kepadanya sesudah yudisium. Dia tidak tersingung. Saya menganjurkan supaya dia menjadi katekis di pedesaan saja. Ia tidak mengiakan. Tidak juga ia membantah. Waktu berjalan terus. Kami tidak bertemu cukup lama. Pada suatu waktu dia mengundang saya. Untuk apa? Saya minta Romo turut saksikan pentasan Natal anak-anak. Katanya polos dan lugu. Ternyata, luar biasa. Anak-anak sendiri beraksi. Mulai dari ucapan selamat datang, persiapan panggung., pentasan, sampai akhir pentasan. Pesannya jelas. Yesus tidak menuntut banyak dari orangtua-Nya. Ia lahir di tempat binatang tapi disenangi, bukan hanya para gembala tapi juga para malaekat. Saya kagum. Ternyata ia yang tidak mampu di kelas sangat berhasil di antara anak-anak di KUB dalam kota. Saya disadarkan. Selalu masih terbuka ruang bagi Tuhan untuk melaksanakan karya-Nya lewat orang yang dipanggil-Nya. Semakin orang mengakui ketakmampuannya semakin nyata karya Allah. 

Hal serupa terasa dalam Yoh 16:12-15. Apa yang dikatakan Yesus, tidak ditangkap seluruhnya oleh para murid. Sekarang Dia harus kembali kepada Bapa. Tapi Roh Kudus akan memimpin mereka memahami seluruh kebenaran. Roh Kudus memberitakan keadaan baru. Apa itu? Persekutuan umat yang dihasilkan kematian dan kebangkitan Yesus. Semangat persaudaraan dalam Kristus tidak hanya digalang di kalangan sendiri. Tapi terbuka lebar bagi orang luar, termasuk musuh sekalipun. Terbukti dalam seluruh sejarah Gereja sampai sekarang, bukan? Lalu, masih terbuka juga ruang bagi Tuhan untuk berkarya dalam hidup dan kegiatan kita? 15052013

Saturday, May 4, 2013

Roh Kudus Anugerah Bapa Bagi Kita

Orang yang pernah hidup di asrama tentu ingat. Bagaimana peraturan asrama dilaksanakan? Hal yang sama terjadi juga kalau ada perintah khusus bapa atau ibu asrama. Kalau bapa atau ibu asrama ada, beres. Tapi kalau penguasa asrama itu tidak ada? Banyak waktu diisi dengan ceritera dan senda gurau. Aturan atau perintah itu tidak diindahkan sama sekali. Akibatnya sudah diketahui. Dapat siksaan bukan?Tetapi sesudah tamat, semuanya itu menjadi ceritera selingan hidup dan penyegar suasana. 

Hal ini tidak terasa dalam Yoh 14:23-29. Sudah dekat sekali saatnya Yesus berpisah dengan para murid-Nya. Yesus tidak lagi secara fisik mendampingi para murid-Nya. Akan ada situasi baru. Mereka hidup di tengah masyarakat yang tidak ramah. Tetapi mereka jangan cemas. Yesus tetap hidup dan mendampingi mereka dengan cara baru. Sabda-Nya tetap ada pada mereka. Sabda itu dapat menjadi pegangan. Itu kalau mereka tetap mengasih Dia. Mungkin mereka tidak merasa aman karena sikap lingkungan yang bermusuhan. Namun mereka tetap bertahan dan hidup damai. Bahkan mereka bergembira. Kematian Yesus merupakan cinta dan ketaatan-Nya pada Bapa. Dengan demikian Yesus mempermuliakan Bapa. Atas cara yang sama Ia dipermuliakan oleh Bapa. Begitu juga para murid yang tetap setia, biarpun harus mati sekalipun. Berpegang pada sabda Yesus membuka cakrawala baru. Justru dalam situasi sulit, sabda-Nya menjadi kekuatan dan sumber motivasi untuk bertahan. Berkat bantuan Roh Kudus para murid akan mengingat sabda Yesus dan memanfaatkannya pada setiap situasi yang berubah. Roh Kudus itulah anugerah Bapa bagi para murid yang ditinggalkan Yesus. Kita pun ditinggalkan Yesus secara fisik, bukan? Kita pun dapat menikmati semuanya ini. Itu kalau kita juga berpegang pada sabda-Nya dalam situasi apa pun. Mampukah kita? 05052013

Friday, May 3, 2013

Ditolak, Dibenci dan Dianiaya

Persoalan itu sangat sensitip dan sedang hangat dibicarakan. Sangat laris dari mulut ke mulut. Yang belum tahu, suka mencari tahu. Soal pelecehan seksual yang melibatkan figur publik. Telinga terasa gatal kalau tidak mendengar. Orang tidak lagi persoalkan, benar atau tidak. Tapi siapa berani mengecek kebenarannya langsung kepada yang empunya persoalan? Sama sekali tidak fair bila orangnya sendiri tidak didengarkan. Bagaimana kalau tidak benar? Kalau benar pun, apa untungnya kita membicarakannya? Apakah kita sendiri putih bersih? Diam-diam saya mendatangi orangnya. Saya baru saja menyinggung persoalan itu. Mukanya menjadi merah. Bibirnya gemetar. Bicaranya singkat. Persoalan sudah selesai, katanya. Tidak usah dipersoalkan lagi. Pembicaraan saya selanjutnya langsung dipotong. Sistim pembentengan dirinya sangat ketat. Tak ada celah sedikit pun untuk masuk. Untuk pertama kali saya merasa ditolak dalam pendekatan seperti ini. Sakit hati? Tentu saja. Maksud baik untuk melindungi nama baiknya gagal. Selanjutnya, katanya ia membenci saya. Rupanya ada masukan menyesatkan. Saya dianggap penyebar isu yang tak sedap itu. dagelan yang tidak lucu, bukan? 

Pengalaman ditolak dan dibenci bukan satu-satunya pengalaman saya. Pengalaman orang lain, boleh jadi jauh lebih hebat. Apalagi pengalaman Yesus. Sudah terjalin hubungan kasih antara Dia dan para murid-Nya. Begitu akrabnya sehingga Ia memanggil mereka sahabat. Tak ada jarak seperti tuan dan hamba. Dalam Yoh 15:18-21 hubungan-Nya dengan para murid itu dipertentangkan dengan hubungan dunia dengan para murid. Mereka tidak hanya ditolak tapi dibenci dan dianiaya. Nasib mereka tidak mungkin lebih baik dari pada Gurunya. Di dalam diri murid-murid-Nya Yesus sendiri dikejar oleh dunia (bdk Kis 9:5; Kol 1:24). Mengapa mau mengikuti Yesus dengan nasib sejelek itu? Karena nasib-Nya memang begitu. Itulah jalan satu-satunya menuju kebahagiaan sejati. Tak ada jalan tol. Lalu bagaimana? Lebih baik mogok? Atau cari jalan alternatip? Yang tidak mau mati bersama Dia, tak mungkin juga bangkit bersama Dia (bdk 1Tes 4:14). 04052013

Thursday, May 2, 2013

Kerelaan untuk Berkorban

Mengapa tidak dimakan, Bu? Tanya saya kepada ibu di samping saya. Ia membungkus kue yang disajikan dalam pesta itu. Kami lain minum kopi dan makan kue. Ini kebiasaan pesta di desa saya. Tapi ibu yang satu ini, tidak. Ia hanya minum kopi saja. Biar dibawa pulang untuk anak saya. Bisiknya agak malu. Setiap kali pulang ke rumah dia selalu tanya ole-ole. Dia pasti senang sekali. Kue ini kesukaannya. Saya tersentak. Saya makan, tanpa ingat siapa-siapa. Tapi ibu ini? Ia mengorbankan kesukaannya sendiri. Ia rela menanggung rasa malu asal anaknya bahagia. Saya terpojok dalam rasa malu dan bersalah. Berkorban demi kebahagiaan orang lain agaknya semakin langka, bukan? Orang beramai-ramai mengejar kebahagiaannya dan keluarganya. Kebahagiaan orang lain? Siapa peduli? Lihat saja korupsi yang sudah seperti kanker. Ia menyerang berbagai segi kehidupan di seluruh tanah air, bukan? 

Ini tentu saja bertolak belakang dengan semangat dalam Yoh 15:9-17. Yesus menyebut para murid sahabat-Nya. Hubungan antara sahabat tentu pada level yang sama. Tapi dengan syarat: melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Ia tidak hanya memberi perintah. Ia sendiri telah melaksanakan sendiri perintah itu. Perintah apa lagi? Tak bosan-bosannya Yesus berbicara tentang kasih. Kali ini bukan sembarang kasih. Kasih yang paling besar yakni memberikan nyawa untuk para sahabat. Bukankah Bapa telah memberi contoh? Ia memberikan Putera tunggal-Nya. Yesus sendiri mengorbankan nyawa-Nya demi keselamatan kita. Para martir pun demikian. Lalu kita? Bisakah kita mempertaruhkan nyawa untuk orang lain? Mengapa tidak? Masih ingat mama tadi, bukan? Dengan pengorbanan yang kecil tapi dilaksanakan dengan ikhlas maka kita pun sesungguhnya sedang berlangkah ke sana. 03052013

Wednesday, May 1, 2013

Tinggal dalam KasihNya

Sorotan matanya tajam. Tatapannya seakan-akan tidak berpindah. Tetap diarahkan ke wajah anak muda yang duduk di depannya. Bicaranya singkat dan sangat serius. Engkau harus kuat dalam iman. Rajin-rajinlah berdoa. Setia ke gereja pada hari Minggu. Jika tidak, maka engkau akan terseret ikut agama isterimu. Lalu bagaimana dengan anak-anakmu nanti? Berlakulah baik terhadap isteri. Tunjukkanlah teladan yang baik di rumah. Lama-kelamaan isterimu akan mengikuti engkau juga. Masa dia tidak tergerak. Tinggal di lingkungan mayoritas Katolik, koq. Bapa dan mama bahagia, kalau kamu bahagia. Tetapi kalau keluargamu hancur gara-gara agama masing-masing,….ia berhenti sejenak. Matanya menatap ke langit-langit. Terlihat jelas air mata tertahan di pinggir kelopak matanya. Kemudian ia melanjutkan, orangtua mana akan bahagia, kalau anaknya tidak bahagia? Saya yang mendengarkan dari tadi, ikut hanyut dalam keharuan. 

Suasana seperti ini terasa sekali dalam Yoh 15:9-11. Tak lama lagi Yesus berpisah dengan para murid-Nya. Ia sangat mengasihi mereka. Pada saat seperti ini, kasih-Nya itu diberikan sehabis-habisnya. Itu pun belum puas rasanya. Ia mau mengasihi mereka, sama seperti Bapa telah mengasihi Dia. Para murid hendaknya tetap tinggal dalam kasih-Nya ini. Inilah yang menjadi kebahagiaan dan sukacita Yesus. Kasih-Nya murni tanpa pamrih, tanpa batas. Bukankah kita ini pun para murid-Nya? Bagaimana kita dapat tinggal dalam kasih-Nya, selagi kita tidak bisa keluar dari lingkaran cinta diri yang tak berujung? 02052013