Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Monday, November 11, 2013
Sunday, November 10, 2013
Pengikut Kristus Sejati
Katekis itu baru kembali dari pelayanan di KUB. Sudah jam sembilan malam. Ia kelelahan. Sambutan isteri tidak seperti biasa. Nampaknya tidak peduli. Soalnya dari tadi anak menangis tanpa henti. Segala usaha untuk membujuknya supaya diam tidak berhasil. Katekis tentu saja tidak tahu itu. Ia minta isterinya supaya menenangkan anak itu. Rupanya kejengkelan isteri sudah sampai di ubun-ubun. Terjadi ledakan emosi. Enak saja suruh tenangkan anak. Dikira dari tadi saya biarkan anak menangis. Sekarang coba bapa yang tenangkan anak ini. Malam-malam keenakan ke luar rumah. Selalu bilang tugas, tugas dan tugas. Bapa pernah pikirkah tidak soal anak isteri? Untung katekis itu tidak meladeni emosi yang sedang meledak itu. Situasi konkrit para murid seperti ini juga menjadi keprihatinan Yesus (Luk 14: 25-33). Yesus melihat orang yang sedang entusias mengikuti-Nya berbondong-bondong. Mereka rela melepaskan ambisi dan kebutuhan pribadi demi Injil. Tapi sampai kapan? Tidakkah mereka itu berbalik kembali untuk mencari hidup yang nyaman tatkala ada tantangan? Lebih enak hidup seperti orang yang tidak peduli akan keselamatan orang lain, bukan? Tapi justru orang yang seperti itu tidak dapat menjadi murid Kristus. Ia membutuhkan para murid yang melibatkan diri bukan cuma kalau senang sesaat. Murid itu pun harus bisa dipercaya rela menanggung resiko apa pun demi Dia. Yesus harus menjadi pilihan pertama dan utama dalam hidup sehingga keluarga seperti disepelekan. Maka perlu suatu perhitungan yang matang betul sebelum memutuskan untuk mengikuti Yesus. Mengangkat salib adalah tuntutan mutlak untuk mengikuti Yesus. Itu berarti sama saja dengan berani menderita (Luk 23:26). Persatuan dengan Kristus harus total. Bukan cuma di gereja atau waktu berdoa. Di luar harus jadi ajang kesaksian. Pengikut Kristus sejati atau pemburu kesenangan dan kenikmatan haram? 06112013
Saturday, September 14, 2013
Mencari Domba yang Hilang
Pater Daniel Siga dan kembarnya Bapa Baltasar Kodi (lebih terkenal dipanggil Bal) sulit dibedakan. Bukan hanya wajah, tapi suara, gerak-gerik dan penampilannya persis sama. Pada suatu pagi Bapa Bal baru saja meninggalkan rumahnya. Tidak lama kemudian datanglah Pater Dan Siga. Karena sudah makin banyak rumah di sekitarnya ia lupa-lupa ingat rumah saudaranya itu. Maka ia bertanya kepada tetangga, di mana rumah Bapa Bal. Tetangga heran. Yang lain prihatin dan berkata, kasihan sekali. Baru saja ke luar rumah lalu gila? Masa, cari rumah sendiri. Pater Dan berusaha meyakinkan tetangga. Saya bukan Bapa Bal. Orang tambah kasihan dan berkata, aduh, sudah parah sekali ini. Tidak kenal lagi diri sendiri. Dalam hal ini, tentu saja tetangga keliru. Dikira Bapa Bal mencari rumah sendiri. Keadaannya lain dari pada perumpamaan gembala yang baik dalam Luk 15: 1-7. Bermula dari orang-orang berdosa. Mereka bergaul dengan Yesus. Orang Farisi dan Ahli Taurat berengut. Bagaimana mungkin, Yesus begitu akrab dengan orang berdosa. Kelihatan Ia menikmati pergaulan itu. Seharusnya Ia menjauhi mereka. Begitulah asal usul perumpamaan ini. Gembala yang baik meninggalkan domba-domba yang setia. Ia tidak berkata, peduli amat dengan yang satu itu. Lebih baik menjaga yang banyak dan masih setia ini. Tidak! Ia mencari terus yang tersesat itu sampai dapat. Betapa gembiranya gembala yang baik itu. ia berceritera tak habisnya kepada tetangga supaya mereka ikut berbahagia dengannya. Kita pun mendengar ceritera-Nya supaya bisa mencontohi-Nya. Tidak hanya senang dengan orang yang baik. Kita harus terus berusaha supaya yang hilang ditemukan kembali. Lebih baik lagi kalau kita mencegah agar jangan sampai ada yang hilang bukan? Siapa yang sedang hilang sehingga harus dicari? Mungkin orang yang serumah dengan kita. Anak-anak kita yang takut berterus terang kepada orangtua. Katanya mau kerja tugas atau setudi bersama. Tahu-tahu mau pacaran atau mau bergaul bebas. Mungkin juga suami atau isteri yang sedang hilang. Memang seranjang, tapi siapa tahu sedang rindu akan yang lain di luar sana. Lalu siapa yang harus cari dan menemukan kembali kalau bukan kita sendiri? 15092013
Sunday, June 30, 2013
Bangga menyandang nama Katolik di E-KTP?
Bapa itu duduk saja di depan pintu toko swalayan. Ia hanya menengadah melihat setiap orang yang masuk ke luar toko. Ternyata ia penyandang cacad. Tidak ada kaki seperti kita yang lain. Hanya tersembul sedikit saia. Itu pun sangat kecil seperti ujung kaki bayi. Ketika saya ke luar dari toko, ia menatap saya. Uang kembalian saya serahkan kepadanya. Ia tersenyum dan ucapkan terima kasih. Dalam perjalan saya bergulat dengan pikiran saya sendiri. Orang itu hidup hanya dari pengharapan. Mudah-mudahan ada yang berbelas kasihan. Itu bukan hanya sekali dua, tapi seumur hidup. Andai kata saya seperti dia, bagaimana ya?
Keadaannya mirip Yesus dalam Mat 8:19-20. Seorang ahli Taurat mau mengikuti-Nya ke mana saja Ia pergi. Ahli Taurat adalah orang terpandang dan sudah mapan. Mau ikut Yesus? Mau cari apa lagi? Gila, kalau mau cari susah. Yesus berterus terang kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung pun mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). Miskin sekali bukan? Sejak meninggalkan Nazaret, Yesus menjadi pengembara. Ia berada di gunung, berlayar di danau, berada di pantai, masuk ke sinagoga dan rumah orang lalu berjalan lagi dari tempat ke tempat untuk mewartakan Kerajaan Allah. Memang benar Ia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala. Tidak jelas, apakah ahli Taurat itu nekad mengikuti Yesus atau tidak. Kalau dia mencari posisi yang lebih baik dan harta kekayaan, pasti salah alamat. Tapi kalau mencari Kerajaan Allah, maka yang lain-lain itu akan ditambahkan kepadanya (Mat 6:33). Kenyataannya dari dulu sampai sekarang orang tetap berbondong-bondong mengikuti Yesus. Ada yang mundur di tengah jalan sebab kecewa. Yang lain biar jatuh bangun tetap mengikuti-Nya. Ada pula yang sedang ragu-ragu. Yang lain lagi seperti Petrus dkk: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yoh 6:68). Tidak sedikit, yang karena Dia mengalami banyak kesulitan sebagai minoritas. Yang lain bahkan dianiaya sampai mati karena tetap berpegang pada-Nya. Lalu kita? Bangga sebab menyandang nama Katolik di E-KTP? 01072013
Saturday, June 29, 2013
Cinta yang Spesial, untuk Siapa?
Orang omong kasak-kusuk. Lebih baik jujur saja! Jangan sembunyi terus di balik jubah putih! Kita sudah muak! Kita malu juga! Orang bukan Katolik pun sudah tahu! Demikian bicara iseng antar umat tentang pastor yang ketahuan punya simpanan. Sangat laris, terutama di antara para ibu dalam arisan atau doa kelompok. Kasak kusuk itu berdampak juga. Pastor itu akhirnya menanggalkan jubah. Kini sudah jauh dari paroki. Hidup di daerah baru. Di balik pembicaraan itu tersirat rasa prihatin, cinta dan hormat terhadap panggilan suci.
Bukan hanya umat. Tuhan sendiri pun menuntut yang sama. “Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku, dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada AKu, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Lebih mengasihi orang tua atau anak kandung sendiri saja, sudah tidak layak bagi-Nya. Apalagi wanita simpanan, bukan? Hubungan dengan Yesus harus mendapat prioritas utama. Dituntut ketetapan hati dan kebulatan tekad untuk mengikuti Yesus, di saat terjadi konflik kepentingan. Mengikuti Yesus bukan tanpa resiko dan penderitaan. Sebaliknya, ukuran kita menjadi pengikut setia-Nya justru terletak dalam cinta dan kesediaan memanggul salib. Bukan pada jabatan atau status apa pun. Yang itu mudah disalahgunakan untuk kesenangan sendiri, bukan? Hal ini tidak hanya berlaku untuk kaum berjubah, tapi juga yang berumah tangga. Kaum berjubah harus mencintai semua. Tidak boleh menaruh cinta khusus pada seorang saja. Sebaliknya, yang berumah tangga harus punya cinta spesial hanya pada seorang seumur hidup. Tidak boleh lagi di luar dari itu. Dua-duanya memang tidak gampang. Itulah salib yang harus dipikul para pengikut Yesus supaya selamat. “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku (Mat 10:38). Masih mau coba? 30062013
Si Batu Karang: Petrus
Hiruk pikuk kampanye sudah selesai. Pemenang sudah jelas. Tugas ke depan ialah bagaimana mengatur barisan pimpinan. Pasti ada wajah baru. Yang berseberangan dalam kampanye, tidak “dipakai” lagi, sebab tidak loyal. Itu terjadi di mana-mana. Alasan yang biasanya dilontarkan tentu bukan itu. Bukan juga sebaliknya, ialah balas jasa. Yang biasa terdengar ialah pernyataan basa-basi. Demi efektifitas pemerintahan. Tujuannya ialah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tapi semua orang tahu. Ada unsur balas dendam. Lawan politik biasanya diberi tempat “terhormat” dalam kumpulan staf ahli.
Kenyataan ini berbeda sekali dengan Mat 16:13-19. Petrus mengakui Yesus bukan sebagai salah seorang nabi besar, seperti kata orang. Tapi “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16: 16). Spontan saja Yesus menyampaikan proficiat kepada Petrus: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus” (16:17). Alasannya bukan terletak pada jawabannya yang tepat. Tapi Bapalah yang menyatakan itu kepadanya. Lalu menyusullah pengakuan Yesus terhadap Simon. “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus” (batu karang). Tidak hanya sebuah pengakuan kosong. Tapi disusul dengan sebuah janjii: “dan di atas batu karang ini AKu akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18). Tidak hanya itu. Yesus menjanjikan juga penyerahan kunci Kerajaan, dengan kuasa untuk mengikat dan melepaskan, yang berlaku juga bagi Allah.
Kepercayaan luarbiasa besar, bukan? Tapi apa yang terjadi belakangan? Tidak akan terhapus dari catatan Kitab Suci. Si batu karang ternyata goyang juga. Tiga kali Petrus menyangkal mengenal Yesus yang begitu percaya kepadanya. Tragisnya dijatuhkan pertama kali oleh seorang hamba wanita, di saat Yesus begitu menderita. Beginikah Petrus yang diandalkan itu? Apa jadinya dengan jemaat yang didirikan di atasnya? Yesus harus merevisinya. Itu menurut kita. Ternyata tidak. Yesus memang tahu kelemahan itu. Ia tidak tinggal diam. “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu’ (Luk 22:32). Terbukti ‘kan? Selanjutnya Petrus tampil gagah perkasa dalam kotbah pada hari Pentekosta. Tiga ribuan orang bertobat dan minta dibaptis (Kis 2:14-42). Selanjutnya ia mati disalib demi Tuhannya, dengan kepala ke bawah. Tuhan percaya bukan hanya kepada Petrus. Tapi juga kepada kita masing-masing dengan keunikannya. Tidak terpikir untuk menariknya kembali, ketika kita jatuh. Kesempatan untuk bangkit kembali tetap diberikan-Nya. Lalu bagaimana dengan kita? 29062013
Thursday, June 27, 2013
Beranikah Kita Mendekati dan Menjamah DIA?
Saya melayani sebuah stasi di pedalaman. Pernah saya omong-omong dengan ketua stasi tentang keadaan umat. Ia berceritera apa adanya. Ia menyesal. Ibu yang dulu jadi koster, sudah setahun ini tidak lagi ke gereja. Itu terjadi sejak suaminya meninggal. Pada hal dia rajin sekali dan tertib. Dia juga yang latih putra-putri altar. Kedua anaknya masih ke gereja. Sesudah perayaan Ekaristi saya mengunjunginya. Dia terkejut sebab tidak mengira sama sekali. Jelas terlihat dia belum mandi juga. Sementara omong-omong, anak nonanya berbicara dalam bahasa daerah. Saya tidak mengerti. Ternyata anaknya menegur dia. Masa, omong dengan pastor dalam keadaan seperti itu. Rasanya tidak layak.
Yang dialami Yesus dalam Mat 8:1-4 jauh lebih hebat. Seorang kusta menemui-Nya. Pada hal yang mengidap kusta adalah najis. Harus dihindari oleh setiap umat. Apalagi memasuki wilayah kudus seperti Bait Allah. Mereka dikucilkan dari pergaulan orang Israel. Tetapi orang kusta yang satu ini sangat berani . Ia tidak hanya memasuki wilayah kudus. Tapi ia langsung mendekati Yang “kudus Anak Allah” (Luk 1:35). Tidak hanya itu. ia mengajukan sebuah permohonan yang sederhana. “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Mat 8: 2). Tidak bertele-tele. Reaksi Yesus? Seketika itu juga, “Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: Aku mau, jadilah engkau tahir” (Mat 8:3). Luar biasa bukan? Yesus tidak sok suci seperti semua orang Israel yang menghindari orang kusta. Ia tidak hanya rela didekati, tapi Ia mengulurkan tangan-Nya dan menjamah si najis itu. Sesungguhnya kita juga adalah penderita kusta rohani. Kita adalah orang-orang berdosa. Tak ada seorang pun yang suci murni. ada yang dosanya diketahui umum. ada juga yang tertutup rapih. tapi Tuhan tahu semuanya. Beranikah kita seperti si kusta dalam Injil ini untuk mendekati Yesus dan memohon yang sama? Ataukah kita justru menghidari Sakramen Pengakuan dengan berbagai alasan? 28062013
Berpenampilan Ganda
Coba perhatikan! Kalau perayaan akbar, Natal atau Paskah, yang paling sibuk adalah seksi liturgi. Doa-doa diketik kembali dan diperbanyak. Biaya berapa saja tidak soal. Nanti umat beli dan uang masuk lagi. Lalu koor? Tidak usah tanya lagi. Latihan koor digenjot. Tidak ada yang mengeluh. Seragam disiapkan. Itu kan soal penampilan. Pada hari H memang luar biasa. Lagu-lagu yang dinyanyikan sungguh-sungguh menghantar kita masuk dalam suasana perayaan suci. Begitu bersemangat sehingga mau tidak mau mengundang aplaus. Orang yang sudah lama tidak ke gereja pun pasti muncul juga. Paling kurang bisa komuni setahun sekali. Tapi apa kata Tuhan tentang semuanya itu?
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 7:21a). Mengapa? Kita kan berpenampilan ganda. Di dalam gereja alimnya bukan main. Mulut kita penuh dengan nama Tuhan dalam doa yang khusuk dan nyanyian yang merdu. Kita mohon “Tuhan kasihanilah kami”. Tapi di luar gereja? Sedikit pun kita tidak kasih hati kepada pembantu rumah tangga atau orang kecil lainnya. Jangankan pujian, terima kasih saja tidak. Apalagi tips hari raya? Kita bermadah memuliakan Allah dalam lagu yang gegap gempita. Tapi sesudah itu, kita kembali ke kubangan lumpur dosa yang itu-itu juga: mabuk-mabukan, judi, korupsi atau selingkuh. Kita makan sehidangan dengan Dia dalam komuni kudus. Di luar gereja? Kita sulit berbagi dengan orang yang berkekurangan. Mungkin kita malah berlaku tidak adil dengan menggelapkan hak-haknya. Apalagi sedang hangat-hangatnya BLSM sekarang ini. Singkatnya, kita tidak melakukan kehendak Bapa di surga. Semua doa dan lagu pujian dalam perayaan, sama sekali tidak dapat menjadi alasan bagi kita untuk claim: “Tuhan, Tuhan, bukankah kami selalu berdoa, terima sakramen-sakramen, ikut katekese dan aktip terlibat dalam kegiatan di KUB dan di paroki? Hampir pasti kita akan mendengar Dia berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu, enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat durjana” (Mat 7:23). Lalu, mau demo Tuhan? Cobalah, kalau berani! 27062913
Tuesday, June 25, 2013
Mengabdi Kepada Dua Tuan?
Sesudah pembinaan di instansi itu beberapa orang PNS menemui saya. Yang Romo omong tadi benar. Tapi kami juga harus menjaga piring nasi kami, Romo. Salah-salah kami bia dipecat, jika tidak loyal. Benar, kata saya. Kita harus loyal. Selama kita loyal pada kebenaran, kita tidak akan dipersalahkan. Demikian saya tandaskan lagi. Sebaliknya jika kita turut bekerja sama untuk menggoalkan suatu kecurangan yang merugikan kepentingan umum, kita tidak akan selamat. Secara ekonomis kita mungkin beruntung. Tapi sesungguhnya kita akan terus-menerus diusik dan digugat hati nurani kita. Kita tetap merasa bersalah dan tidak tentram. Masa, sebagian besar uang proyek dipakai untuk pernikahan anak Kepala Dinas. Proyek sendiri mendapat jatah tidak sampai separuh dana. Selebihnya menjadi uang tutup mulut para pegawai. Lalu kamu membuat kwitansi fiktip, sebagai alat bukti penyaluran uang proyek. Bagaimana mungkin kamu dapat menjadi saksi iman di instansi ini kalau kamu menutup mulut? Romo, omong tentang iman itu nanti di gereja saja.
Benarlah apa yang dikatakan dalam Mat 6:24: “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat sekaligus mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”. Yesus memberikan peringatan dini akan bahaya kebutaan nurani yang dapat menyesatkan kita. Pada hal hati kita adalah tempat nilai-nilai luhur, bukan? Tetapi mata hati kita dapat dibutakan oleh mulut manis si lidah buaya, harta dan uang. Bila diombang-ambing oleh bujuk rayuan dan tergiur oleh mumpung ada kesempatan, maka kita goyah dan jatuh. Kita harus memilih antara taat kepada Allah yang mencintai kita atau mendewakan uang dan harta. Uang dan harta menjanjikan kebahagiaan dan keamanan di masa depan, tapi merampok kekayaan kita sekarang ini, bukan? Tidak percaya? Demi mengejar uang kita tak dapat hidup jujur dan bebas. Kita merusak perkembangan pribadi dan kehidupan keluarga. Kita tak berkutik di depan kejahatan dan dusta. Mana mungkin kita mau mengenal sesama yang menderita, sementara kita menjilat penguasa? Lalu Tuhan yang sabar dan setia mencari kita yang sedang tersesat mau diapakan, ya? 22062013
Menyangkal diri, Memikul Salib dan Mengikuti Aku
“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Itulah salah satu warisan kebijaksanaan leluhur kita. Peninggalan kuno, tapi tetap luhur. Tidak akan luntur. Maksudnya jelas sekali. Tak ada jalan tol menuju kebahagiaan sejati. Harus dicapai dengan jerih payah. Perlu perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit.
Hal yang sama juga disampaikan Yesus kepada kita dalam Luk 9:18-26. Mula-mula Ia bertanya kepada para murid, apa kata orang banyak. Siapakah Dia? Semua orang sepakat. Yesus itu Yohanes Pembaptis, atau Elia, pokoknya jelmaan salah seorang nabi besar dari zaman dahulu. Itu kata orang. Lalu apa kata para murid? Seperti biasa, Petrus angkat bicara, mewakili rekan-rekannya, “Mesias dari Allah” (Luk 9:20). Dalam tradisi kepercayaan orang Yahudi, Mesias adalah orang yang diurapi, yakni raja dan imam. Ia menjadi juruselamat bangsanya. Yesus melarang keras para murid-Nya. Tidak boleh menyampaikannya kepada siapa pun. Lalu Ia sendiri menyatakan jati diri-Nya. “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk 9:22). Suatu pernyataan yang sama sekali tidak bijaksana dalam rangka menjaring banyak pengikut, bukan?
Siapa mau mengikuti pemimpin yang konyol begini? Tapi itulah jati diri-Nya. Ia tidak bisa menyangkal diri-Nya sendiri. Ia bukan penjual obat yang berbual supaya cepat laku. Belum cukup. Ia berkata kepada semua orang: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, mengikut salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9: 23). Mengikut Dia? Untuk apa kalau hanya menanggung beban penderitaan? Kecenderungan kita ialah mencari kebahagiaan. Kalau ada jalan pintas, mengapa tidak? Bukan memikul beban hidup setiap hari. Tapi apa kata-Nya tentang kebahagiaan yang kita kejar? “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Luk 9:25) Bukankah inilah kebenaran yang kita saksikan setiap hari? Para koruptor, yang ngebut di jalan tol kebahagiaan akhirnya terjerumus di jurang kehancuran. Semua harta kekayaan disita, rahasia pribadi seperti kawan selingkuhan, yang kecipratan uang haram, dibongkar. Benarkan firman dalam Luk 9:25? Lalu kita? 23062013
Apakah Kita Percaya?
Masa penantian kami seperti tak berujung. Mohon doakan kami dalam perayaan Ekaristi berulang kali, Romo. Sudah diperiksa banyak ahli kandungan dan berobat ke banyak dokter. Sudah pakai juga ramuan tradisional. Pergi ke orang pintar dari satu tempat ke tempat yang lain. Pancing dengan angkat anak. Semua usaha tidak berhasil. Akhirnya kami pasrah saja. Rupanya ini menjadi salib keluarga kami, Romo. Begitulah ceritera suami isteri yang tak dikarunia anak dalam pernikahannya itu. Tapi masih jelas terasa ada kerinduan yang besar untuk mendapatkan anak dari rahim sendiri.
Pengalaman ini mirip dengan Zakaria dan Elisabet, bukan? Berbagai usaha dan daya upaya tentu sudah ditempu. Tak berhasil juga. Keduanya sudah lanjut usia. Sudah tidak ada harapan lagi. Tetapi justru pada saat itu datang malaekat Tuhan. Ia berbicara dengan sangat pasti. Zakaria dan isterinya dikaruniai seorang anak laki-laki. Tapi Zakaria tidak percaya. “Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal itu akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya” (Luk 1:18). Akibatnya ia menjadi bisu sampai anak itu lahir. Untuk memastikan nama anaknya pun dia harus menulisnya pada sebuah batu tulis (bdk Luk 1:63). Kebesaran Tuhan memang tak dapat ditangkap seluruhnya oleh daya nalar kita. Ada banyak peristiwa serupa terjadi di sekitar kita. Tetapi kita tak dapat mengerti, bukan? Tidak cocok dengan analisa ilmiah, biarpun dibantu dengan IT sekalipun. Tapi tak bisa disangkal. Sudah terjadi dan semua orang tahu itu. Kenyataan ini seharusnya membuka ruang untuk iman kepercayaan kita akan Allah. Persoalannya, apakah kita percaya? 24062013
Ada Racun di Ekor!
Cave cane in cauda! Demikian kata salah satu peribahasa Latin. Hati-hati, ada racun di ekor. Suatu peringatan yang bagus dalam pergaulan. Mulut manis, murah senyum, pamer kemegahan, mungkin pencitraan yang ada maunya. Hal ini ada di mana-mana: politik, medis, bahkan menyusup sampai ke dalam hidup beriman.
Ingat apa yang dikatakan Yesus dalam Mat 7:15-20. Antara lain Yesus berkata: “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Mat 7:15). Bahaya terselubung, bukan? Maka Yesus menambahkan: “Dari buahnyalah kalian akan mengenal mereka” (Mat 7:16). Kita tahu buah-buah iman yakni perilaku dan perbuatan baik seperti: cinta kasih, jujur, suka damai, setia kawan, murah hati dan suka membantu tanpa pamrih. Di sinilah terletak kekuatan hidup beriman. Bukan pada gedung gereja yang megah dan ornamen yang mewah. Apalagi kalau dibangun dengan menghitung-hitung andil dan jasa. Itu hanyalah pameran kemegahan tanpa gizi iman. Demikian juga dalam hal berdoa. Bukan mendekatkan diri pada Tuhan, tapi utuk menuai keuntungan. Lihat saja doa penyembuhan. Pendoa berlagak penuh mistik. Doa musti di tengah malam. Seakan-akan hanya pada waktu itulah Tuhan ditemukan. Ujung-unjungnya adalah uang, bukan? Dengan naiknya BBM, tarifnya pun mungkin ikut didongrak. Siapa tahu? 26062013
Mulutmu harimaumu
Mulutmu adalah harimaumu. Ada yang mengatakan buaya. Harimau atau buaya sama saja. Maksudnya jelas. Suatu peringatan dini, agar berhati-hati dengan tutur kata kita. Bisa-bisa menjadi kontra produktip. Malah jadi bumerang. Ingat kampanye di tahun 2009, bukan? Semua yang berkampanye beramai-ramai mengambil hati pemilih. Ada yang berteriak, “Katakan tidak pada korupsi”! Apa jadinya? Korupsi jualah yang menjebloskannya ke dalam penjara. Benarkan, mulutmu adalah harimaumu?
Dalam Mat 7: 6, Yesus pun memperingatkan para pengikut-Nya: “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu”. Para pengikut, khususnya yang berada di tengah musuh umat Tuhan, jangan mengobral kata-kata mutiara keselamatan. Kita perlu belajar dari pengalaman Rasul Paulus di Areopagus (Kis 17:29-34). Gaya bicaranya sangat memikat pendengar. Ia berbicara tentang apa yang mereka sembah, tanpa mengenalnya. Dialah Allah, pencipta langit dan bumi. Ia tidak berdiam dalam kuil dan dilayani manusia. Pendengar sangat entusias. Tapi ketika ia menampilkan kebenaran bahwa Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, apa reaksi orang Areopagus? Ada yang mengejeknya. Yang lain meninggalkannya. “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu” (Kis 17:32). Biarlah sedikit benih kesaksian yang ditaburkan. Ia akan bertumbuh perlahan-lahan. Pasti menjadi pohon yang besar dan rindang. Seperti biji sesawi (Mat 13:31-32), bukan? Tapi jangan karena takut, lalu membenamkan benih itu di hati sendiri (bdk Mat 25:18). Kita pun harus menjadi saksi (bdk Kis 1:8), bukan? 25062013
Friday, June 21, 2013
TUHAN tidak buta
Tadi menjelang malam, saya sedang menyiapkan renungan untuk besok. Pintu kamar saya diketok. Saya teriak: masuk! Pintu tidak dibuka. O…pasti tamu. Bukan frater. Kalau frater tentu sudah buka pintu. Saya bangun dan buka pintu. Ternyata mantan siswa saya di PGA dengan isterinya. Sekarang ia berkarya sebagai guru agama di pedalaman. Jauh dari Kupang. Ia membawa berita musibah. Kost anaknya terbakar. Anaknya dkk luput hanya dengan pakaian di badan. Ia datang untuk meminta bantuan. Saya membantu sejauh kemampuan saya. Segera saya hubungi kenalan di kantor Walikota. Syukur, ada jalan ke luar. Perlu laporan dari Pak Lurah maka bantuan bisa disalurkan. Dia ucapkan terima kasih dan masih sempat berkomentar. Betul e Romo kata Tuhan: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, carilah, maka kamu akan mendapat, ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Mat 7:7). Saya katakan, orang yang tidak peduli akan Tuhan pun, tetap dikasihi Tuhan. Apalagi orang yang setia mengabdi kepadanya. Tuhan tidak buta. Ia tidak pernah terlambat untuk menyalurkan bantuan. Ia bersabda: “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat 6:8). Selanjutnya Ia mengajarkan doa yang indah dan sarat makna: Bapa kami. Semua yang kita butuhkan sudah tercakup di dalamnya. Sayangnya, kita biasa mendaraskannya terburu-buru, karena sudah dihafal. Mulut kita menyapa, Bapa kami…tapi hati dan pikiran kita jauh dari pada-Nya. Benarlah nubuat nabi Yesaya: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Yes 29:13). Doa kita kehilangan makna. Itu selagi kita dalam keadaan baik. Tapi ketika mengalami musibah, barulah kita berdoa dengan kusuk, tutup mata, dan memaksakan keinginan kita kepada Bapa. Bukan “jadilah kehendak-Mu” (Mat 6:10) tetapi terjadi menurut apa yang kita harapkan dan butuhkan sekarang. Kita memaksa Bapa mengabulkan apa yang kita minta. Beginikah sepantasnya sikap anak kesayangan Bapa? 20062013
Semakin diminum, Semakin Haus
Belasan tahun sudah lewat. Waktu itu ia sedang di puncak kejayaan. Jadi kepala dinas di lingkungan Pemda Propinsi. Usianya masih terhitung muda. Di sore itu, ketika saya berkunjung, ia sedang memberi petunjuk kepada tukang. Mereka sedang memperluas rumah pribadinya. Pada hal rumah itu sudah lumayan luas. Katanya agar nyaman bagi anak-anak yang membawa teman-temannya ke rumah. Dari rekan-rekan kerjanya saya tahu bahwa ia juga sudah membangun empat buah rumah untuk keempat puteranya. Beberapa minggu lalu saya mengunjunginya lagi. Rumah yang luas itu sekarang seperti tak bertuan. Sunyi sekali. Ternyata bapa itu sudah stroke. Jalannya sudah susah. Harus dipapah. Saya terkejut melihat keadaannya. Semua anaknya kuliah di Jawa. Sekarang sudah dapat kerja. Tiga di antaranya sudah berkeluarga. Anak yang keempat kerja di perkebunan sawit di Kalimantan. Tidak ada berita sejak perpindahannya ke Kalimantan.
Membaca dan menyimak firman Tuhan dalam Mat 6: 19-20. “Janganlah kamu mengumpul harta di bumi: di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar dan mencurinya” saya teringat akan bapa itu. Apa gunanya punya rumah mewah yang luas tapi terasing dalam kesepian? Lalu bagaimana dengan rumah untuk anak-anak itu? Siapa yang tinggal? Mubasir. Hanya membuang-buang uang saja. Uang dan harta kekayaan dianugerahkan Tuhan untuk mendukung hidup yang layak. Tapi dapat juga disalah-gunakan. Bukankah itulah yang tengah dipertontonkan para koruptor dan penimbun kekayaan? Sama seperti minum air laut. Makin diminum makin haus. Selagi kehausan, kita akan mati rasa setia kawan terhadap sesama yang menderita. Lalu di manakah kepedulian sosial kita? Jika demikian maka sulitlah bagi kita untuk mengumpulkan harta di surga, bukan? 21062013
Meluangkan Waktu Terbaik untuk Berdoa
Masih ingat Abdurakhman Wahid, bukan? Ia lebih akrab disapa Gus Dur. Presiden keempat Indonesia. Umat beragama mengenang dan menghormatinya lebih sebagai bapa dan pejuang pluralisme. Dalam konflik dan kekerasan agama, ia selalu tampil dan pasang badan untuk membela kaum minoritas. Bicaranya ceplas-ceplos dan bernada humor. Ia pernah berucap, Tuhannya orang Nasrani sangat dekat. Hanya dengan berbisik saja Tuhan sudah mendengar. Tapi Tuhannya orang Islam sangat jauh. Perlu bantuan toa supaya Tuhan bisa dengar. sebuah guyonan berisi sentilan dan sindiran halus.
Hampir sama dengan peringatan Yesus kepada para pengikut-Nya. “Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:5-6). Apakah terpengaruh nas ini maka imam dan biarawan-biarawati kelihatannya tidak berdoa lagi? Seorang kakek dari tahun tigapuluhan pernah bernostalgia. Katanya, Romo, mengapa kamu para imam, bruder, suster sekarang tidak seperti yang dulu-dulu? Kalau dulu, sore-sore mereka berjalan sekitar pastoran sambil berdoa rosario atau brevir. Sekarang, sibuk terus. Kamu berdoakah tidak? Saya katakan, ah bapa, berdoa itu tidak perlu diketahui orang. Dia tidak hilang akal. Ya, dilihat saja tidak, apa lagi tidak dilihat. Mungkin kakek ini benar. Tentu bukan semuanya begitu. Tapi tidak tertutup kemungkinan, kesibukan menyita seluruh perhatian dan waktu kita. Yang tersisa ialah kelelahan. Bagaimana mungkin kita bisa berdoa ketika sudah lelah? Betul, nilai doa tapi dalam sikap batin yang berbasiskan iman dan cinta akan Allah. Bukan dalam banyaknya kata-kata yang diucapkan,. Tapi mampukah kita berkonsentrasi dalam doa kepada Bapa selagi kita sudah kelelahan? Sebaiknya kita meluangkan waktu terbaik ketika kita masih segar untuk berdoa kepada Bapa. Sebab pantaskah kita berikan sisa waktu dan perhatian kepada Tuhan? 19062013
Bukan Orang Kita
Menjelang Pilkada beredar kampanye gelap lewat sms. Pilih dia sebab dia ‘orang kita’. Maksudnya orang sesuku atau seagama. Sms ini berasal dari orang yang tidak hanya kurang pendidikan tapi juga dari orang yang berpendidikan tinggi. Heran, pilih bukan karena orangnya bersih, programnya bagus dan pro rakyat. Tapi bisa dipahami. Isu suku atau agama sangat efektip untuk menyulut emosi massa, demi kemenangan. Selama berada di NTT, kita memilah-milah ‘orang kita’ berdasarkan suku atau agama. Tapi di luar NTT, ‘orang kita’ adalah orang Flobamora. Tidak peduli suku atau agama apa. Bukankah lagu Flobamora yang dinyanyikan di luar NTT sangat menyentuh emosi siapa saja yang berasal dari Flores, Sumba, Timor dan Alor, Sabu dan Rote? Tapi isu kampanye ‘orang kita’, memecah belah dan memporak porandakan persatuan itu.
Bukan hanya di NTT. Di mana saja terjadi hal yang serupa. Lihat saja dalam Mat 5:43. Yesus bersabda: “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu”. Bagi orang Yahudi, sesama manusia adalah orang yang berdarah daging dan beragama Yahudi. Di luar itu, bukan lagi sesama manusia, bahkan menjadi ancaman. Maka tidak patut dikasihi seperti sesama Yahudi (bdk Ul 7:2). Rada sama dengan ‘orang kita, bukan? Tetapi apa kata Yesus? “Tetapi AKu berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:44-45). Bapa tidak tebang pilih, bukan? Allah mencintai semua kita yang berbeda suku, agama, mayoritas atau minoritas. Kebaikan dan kemurahan-Nya berlimpah ruah untuk siapa saja. Maka seharusnya kita meneladani kasih-Nya ini. Tapi kenyataannya? Anak sendiri saja, masih ada ‘anak papa’ atau ‘anak mama’. Pelayanan kita pun tidak luput dari pilih kasih. Kita perlu membereskan hati kita. Jika tidak maka perbedaan menjadi ancaman yang tak berkesudahan antara anak-anak Allah. Pada hal kita harus berarak di jalan menuju kesempurnaan Bapa, bukan? 18062013
Sunday, June 16, 2013
Aksi Tanpa Kekerasan
Kami sedang duduk-duduk di pendopo. Suasana santai dan gembira. Hari ulang tahun katekis. Ada hidangan makan minum ringan. Tidak lama anaknya pulang dari sekolah sambil menangis. Dari seragamnya, dia SD. Dari usianya, mungkin di kelas dua atau tiga. Bapanya bangun dari tempat duduk. Mengapa menangis, Veky? Dedy pukul saya, katanya melapor. Dedy itu laki-laki atau perempuan? Laki-laki. Ah, Veky juga laki-laki to? Mengapa takut? Dia pukul pakai apa? Tangan. Veky juga ada tangan. Mengapa tidak balas? Sama-sama laki-laki, sama-sama punya tangan. Lain kali, tidak usaha takut. Begitulah kata suami ibu katekis itu. Mungkin mau menanam semangat juang dalam diri anak. Tapi nadanya provokatip dan berbenih kekerasan, bukan?
Apa kata Yesus tentang ajaran yang sama? “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu, janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berikan juga kepadanya pipi kirimu” (Mat 5:38-39). Jauh bedanya dengan ajaran suami katekis kepada anaknya Veky, bukan? Yesus mengajarkan para murid-Nya aksi tanpa kekerasan, non violence. Suatu ajaran yang bertentangan dengan budaya gigi ganti gigi. Bukankah naluri ini tersimpan rapih dalam hati kita juga? Ia baru muncul spontan tak terkendali pada saat yang tepat. Lihat saja aksi tawuran anak muda di jalanan. Hal yang sangat merisaukan dan memprihatinkan. Bukankah mereka adalah calon pemimpin bangsa kita? Pemimpin yang naik takhta dengan kekerasan hari ini, besok akan menuai kekerasan untuk mencopotnya. Aksi kekerasan timbal balik, gigi ganti gigi, tak mungkin menciptakan keadilan dan perdamaian. Sebaliknya pemimpin yang menggalang aksi perlawanan tanpa kekerasan akan dikenang dan dihormati oleh siapa pun sepanjang masa. Sebut saja Mahatma Gandi, Martin Luther, Jr dan Nelson Mandela yang telah diinspirasi dan dimotivasi firman: “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berikan juga kepadanya pipi kirimu” (Mat 5:39). Ternyata bisa, bukan? Mengapa anak cucu kita tidak disiapkan untuk mewarisi non violence, ajaran dan aksi tanpa kekerasan? 17062013
Saturday, June 15, 2013
Sadari Keberdosaan Kita!
Ia tahu saya pulang kampung. Sore itu dia datang sambil menggendong seorang anak kecil. Dalam hati, saya berkata, pasti ini anaknya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia meletakkan anak itu di pangkuan saya. Lalu ia duduk di lantai. Ia menangis dan memeluk kaki saya. Dia sadar telah mengecewakan saya. Sambil menangis ia berkata, kalau bapa marah terhadap saya, sudahlah itu nasib saya. Tapi bapa jangan marah anak tak berdosa ini. inilah cucumu, bapa. Saya ini anak durhaka. Tidak dengarkan bapa. Tanpa sadar air mata menetes di pipiku. Dia ini adalah ponakan saya. Belum lama diwisuda. Tahu-tahu kembali berhubungan dengan pacar lama, kawan sekolah di SMP. Pekerjaannya tak menentu. Bertani, tidak. Bertukang pun tidak. Lalu bagaimana dengan rumah tangganya? Saya menginginkan kebahagiaan keluarganya. Tapi mungkin hidup bersama dengan pilihannya inilah yang membahagiakannya. Saya berusaha menghiburnya. Semoga dia berbahagia bersama anak dan suaminya. Dia bukan berhenti menangis, tapi tangisnya malah makin menjadi-jadi. Saya biarkan dia menangis selama beberapa saat sampai akhirnya berhenti.
Sadar akan kedurhakaan dan dosa itu menjadi adegan mengharukan dalam Luk 7:36-50. Seorang wanita terkenal berdosa kelas berat mendatangi Yesus. Ia sadar sekali akan dosanya. Ia pun tahu Tuhan sangat baik. “Allah adalah kasih” (1Yoh 4:8). Ia pasti mengampuni dosanya yang begitu banyak. Bukankah Ia bersabda: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju” (Yes 1:18). Sementara dia sendiri? Kesadaran akan kebaikan dan pengampunan Tuhan telah mendorongnya untuk berbuat apa saja yang terbaik. Tidak peduli apa kata orang. Ia menangis di depan banyak orang. Air matanya membasahi kaki Yesus. Tanpa malu ia menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Ia juga tidak hitung untung rugi. Ia menyirami kaki Yesus dengan minyak yang paling harum dan paling mahal. Lalu ia menciumnya berulang-ulang. Ia sadar akan malangnya keadaan berdosa dan besarnya cinta serta kebaikan Tuhan. la terdorong untuk bangkit kembali. Ia menempuh hidup baru dan berbuat kasih tanpa hitung untung rugi. Kalau dia bisa, mengapa kita tidak? 16062013
Friday, June 14, 2013
Jika Ya, Katakan Ya!
Kapal baru saja sandar di pelabuhan. Calon penumpang, pengantar, penjemput dan buruh pelabuhan sudah berdesakan di gerbang masuk pelabuhan. Sudah tidak sabar lagi. Maklum, sudah lama menunggu. Empat orang polisi berjaga di muka gerbang. Di tengah orang yang berdesakan itu, seorang bapa mendekati saya. Rambutnya sudah ubanan. Gayanya seperti sudah lama berkenalan. Oh, ini orang saya, katanya. Tapi orang-orang yang mengenalnya, segera bereaksi. Ada yang mengatakan, hati-hati Romo, itu penipu. Jangan percaya. Yang lain berteriak, jaga, lidah buaya itu. Yang lain lagi marah. He, kalau mau tipu, tipu saja orang lain. Itu Romo. Kau kira itu sembarang orang barangkali! Pada halnya ia belum sempat mengatakan apa maunya. Begitulah nasib orang yang terkenal sebagai penipu. Ke mana-mana orang tak percaya.
Dalam Mat 5:33-37, Yesus memperingatkan para pengikut-Nya, jangan pernah bersumpah. “Jika ya, hendaknya kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37). Kata yang diucapkan haruslah sesuai dengan kenyataan. Itu berarti cocok dengan niat di hati. Tidak tipu, bukan? Sebab itu jangan obral senyum untuk menyembunyikan niat yang jahat. Tidak perlu bersilat lidah atau mencari-cari celah hukum untuk membela kebohongan. Tuhan tahu semuanya. Lalu bagaimana dengan kita? Kita berusaha meyakinkan orang tentang kebenaran dan kesungguhan kita. Untuk lebih meyakinkan lagi, kita berani mengangkat sumpah. Kita memanggil Tuhan menjadi saksi waktu pelantikan menjadi pejabat publik, atau sebelum menjadi saksi di pengadilan. Kita pun bersumpah setia di depan altar sebagai imam, biarawan-biarawati atau suami isteri. Suatu tindakan yang sangat berani, bukan? Selanjutnya, Tuhan masih tetap menjadi saksi sepanjang hidup, entah kita setia atau tidak pada janji dan sumpah kita. Tuhan tentu memaafkan kita bila kita jatuh. Tapi masyarakat luas? Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Makanya, benahi hati supaya selalu ke luar yang murni dan tulus. Kuatkan kehendak agar menolak kebohongan dalam perkataan dan perbuatan kita. Tiap kata dan perbuatan harus dipertanggung jawabkan, bukan? 15062013
Subscribe to:
Posts (Atom)