Monday, March 4, 2013

Selalu Saling Mengampuni

Luarbiasa! Petrus mau mengampuni sampai tujuh kali. Patut diacungi jempol. Orang NTT? Hanya satu kali, bukan? “Kau…lagi satu kali…”

Petrus yang mau mengampuni sampai tujuh kali pun ditolak Yesus. Apalagi pengampunan ala NTT. “Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22). Apakah itu berarti sampai empat ratus sembilan puluh kali? Tentu tidak. Bukan soal hitungan angka. Tapi berulang-ulang kali. Atau setiap kali, kita harus memaafkan. Siapa tahan?

Apabila pacar atau pasangan hidup berulang kali tidak setia, seperti anjing mengulang bangkai misalnya, bukankah kita mengatakan, “Kesabaran saya ada batasnya”? Tidak tahu batasnya sampai di mana. Pengampunan bukan pernyataan setuju atas kesalahan, atau pembiaran dan tidak memberikan efek jerah. Sebaliknya, menyatakan kebesaran pribadi, yang mau mengangkat martabat orang yang telah jatuh. Tapi memang tidak gampang menjadi pengikut Kristus. Tuntutannya tidak main-main. “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu di sorga adalah sempurna” (Mat 5:48). Siapa bisa menyamai Bapa di sorga? Betapapun kita jatuh dan jatuh lagi ke dalam dosa, Bapa selalu mau mengampuni kita, kalau kita bertobat.

Hal yang sama seharusnya kita lakukan. Tetapi pengalaman menunjukkan lain sekali, bukan? Kita senang dan lega sesudah diampuni karena tak ada beban batin lagi. Tetapi terhadap sesama? Betapa sulitnya kita memberikan pengampunan. “Biar, supaya dia rasa!” Inilah kata-kata yang meluncur ke luar dari bibir kita. Dan berapa yang tetap hidup dalam dendam, biarpun sudah tahu bahwa dendam hanya merusak batin sendiri. Apakah inilah upah bagi orang yang tidak mau mengampuni sesama (bdk Mat 18:28-35)? 05032013

No comments:

Post a Comment

Post a Comment